My First Trip to Medan


Ceritanya saya dipanggil diklat ke medan selama dua minggu. Ini adalah diklat pertama saya ke luar kota selain diklat-diklat angkatan saya. Maksudnya ini adalah diklat yang tidak semua wajib menjalaninya. Ya sebelumnya saya pernah diklat tentang pelaporan keuangan dan aplikasinya, ini diklat pilihan juga. Tetapi diklat tersebut dilaksanakan di jambi jadi masih dalem kota, tidak ada acara nginepnya, tidak ada acara naik pesawatnya, dan tidak ada acara jalan-jalannya.

GedungBDKMedan2Kalau dilihat dari jenis diklatnya sebenarnya ini adalah materi yang banyak dihindari orang. Diklat ini tentang pengadaan barang atau jasa pemerintah. Sangat erat sangkut pautnya dengan korupsi dan penjara, ngeri bener dah. Tapi saya memiliki alasan pribadi mengapa saya mengajukan diklat ini dan berusaha untuk lulus ujian sertifikasinya. Walau kadang ada keraguan, tapi dengan diiringi doa dan berserah diri pada maha kuasa saya ikuti diklat ini. (lebay bgt… tapi seriusan ini diklat bikin galau… wkwkw)

Karena dari Jambi tidak ada penerbangan langsung medan, pilihan saya hanya dua yaitu transit batam atau jakarta. Saya pilih batam dengan alasan harga dan efektivitas waktu. Dan karena saya belum pernah ke Batam juga. Lumayan walau cuman jalan-jalan di bandaranya saja minimal saya pernah ke kota Indonesia terdekat dengan Singapura ini.

Sampai di Balai Diklat Keuangan Medan saya bertemu dua teman angkatan saya. Mereka berbeda spes/jurusan pas kuliah, jadi saya kenal mereka pas masuk instansi saya. Beruntung saya sekamar dengan salahsatu dari mereka, yaitu pelaksana dari lhokseumawe. Diklat ini jadi ajang curhat kami yang kebetulan sesama pelaksana subbagian umum. Dari masalah keuangan, tata usaha bmn, kepegawaian, sampai rumah tangga kantor kami bahas. Positifnya ini bisa jadi bahan benchmark, jeleksnya kami jadi tukang gosip hhaha.

Setelah beberapa hari saya perhatikan ternyata kebanyakan dari teman sekelas diklat saya adalah eselon IV atau para kepala seksi. Wow pantes aura mereka berbeda, bahasan obrolan mereka tinggi-tinggi, walaupun di akhir diklat sih obrolan mereka menjurus ke ngawur juga. Awalnya sedikit ciut nyali ini melihat mereka yang pasti sudah sarjana atau magister. Apalagi saat materi disampaikan, awalnya masih bisa mengikuti, lama-lama mulai banyak hitungan mulai mumet. Tapi pas try out ternyata hasil saya tidak mengecewakan juga. Dari beberapa kali t.o. saya selalu lulus walau ada yang mepet nilainya.

Kedudukan kawan diklat saya yang kebanyakan kasi bukan berarti mereka tidak enak diajak ngobrol. Beberapa ada yang kocak dan mau berbagi pengalaman atau nasehat. Salahsatunya Bapak dari kantor Balige masih daerah Sumut. Dia menceritakan bahwa sebelum diklat dia malah berkonsultasi dulu dengan istrinya. Apakah dia berusaha tidak lulus, sunggu-sungguh belajar, atau biasa saja dalam diklat ini. Ini membuktikan bahwa diklat ini memang menjadi tekanan bagi pesertanya.

to be continued….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s