Cerpen : PENUNGGU POHON MANGGA


PENUNGGU POHON MANGGA

Oleh Nurhayati Pujiastuti

Sekarang sudah musim mangga. Pohon mangga di samping rumah Pak Amat sudah mulai berbuah. Masih kecil-kecil memang, tapi banyak sekali. Ini sering membuat anak-anak yang melewatinya berhenti sejenak untuk melempari mangga-mangga itu dengan batu. Irwin salah satu anak yang senang melakukan hal itu. Kalau dilihatnya rumah Pak Amat sepi, ia akan mengajak kawan-kawannya untuk mencari batu-batu dan melempari mangga-mangga itu. Untuk naik ke atas pohon mangga itu, mereka tidak berani. Banyak semut merah yang besar-besar di batang pohon itu. Lagi pula tetangga Pak Amat suka ikut memarahi, kalau melihat anak-anak bergerombol dan melempari mangga. Tapi akhir-akhir ini, tak ada lagi anak-anak yang berani mengganggu pohon mangga Pak Amat. Kenapa? Irwan penyebabnya. Menurut Irwan, pohon mangga Pak Amat ada penunggunya. Makhluk halus yang bisa membuat anak-anak yang mengganggu pohon mangga Pak Amat menjadi sakit. “Lihat mukaku”, kata Irwan menunjuk mukanya yang bengkak. “Kemarin malam, aku sama Dodi, naik ke atas pohon mangga itu. Dan sekarang, mukaku dan muka Dodi menjadi bengkak”. Dan anak-anak percaya dengan kata-kata Irwan. Terlebih lagi sewaktu mendengar cerita ada anak lain, Amir, yang jatuh dari pohon mangga Pak Amat ketika akan mencuri mangga itu. Padahal sebelumnya, Amir dikenal palig pintar kalau disuruh naik pohon-pohon yang tinggi. Sejak itu, pohon mangga Pak Amat jadi seperti sesuatu yang menakutkan untuk anak-anak. Tidak ada lagi yang berani melempari mangga. Bahkan tak jarang, kalau akan melewati pohon mangga itu, mereka berlari sambil berteriak-teriak seperti ketakutan. Hingga mangga-mangga itu menjadi besar dan kuning, tetap tidak ada lagi anak yang berani menggangu pohon mangga Pak Amat. Tapi ada satu anak, teman sekolah Irwan, bernama Firman. Setiap kali melewati pohon mangga Pak Amat, ia merasa tergiur. Mangga adalah buah kesukaannya. Dan yang ia tahu buah mangga Pak Amat sangat enak. Tapi, Firman bukan anak yang nakal seperti Irwan. Untuk mendapatkan buah mangga dari pohon Pak Amat, ia tidak akan mencurinya. Ia akan memintanya langsung pada Pak Amat. Sepulang sekolah, Firman berhenti di halaman rumah Pak Amat. Kebetulan Pak Amat tengah berada di bawah pohon mangga sambil sibuk memandangi mangga-mangganya yang telah menguning. “Selamat siang, Pak” sapa Firman ramah. “Banyak ya buahnya”. Ia ikut menengadah. Pak amat menggangguk. “Kalau tidak diambil sekarang, nanti dimakan kelelawar, Pak!” Pak Amat memandangi Firman. “Mau ikut membantu mengambilnya?” Firman diam. Wajah Irwan yang bengkak dan cerita Amir teringat kembali. Apa jadinya nanti kalau penunggu pohon mangga itu marah padanya dan wajahnya menjadi bengkak? Atau kakinya keseleo karena jatuh? “Di pohon mangga ini, ada tiga sarang lebah. Dua kawanmu yang bengkak itu mungkin tanpa sengaja mengenai sarang itu. Dan lebah-lebah itu menjadi marah”, kata Pak Amat yang kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dan kawanmu yang jatuh dari pohon itu, karena dia memanjat pohon ini ketika hujan. Kebetulan Bapak melihatnya dan anak itu melihat Bapak. Dia terjkejut dan tergelincir jatuh. Untung tidak terluka”. “Jadi…, tidak ada penunggu di pohon mangga ini”, ujar Pak Amat sambil tertawa terkekeh-kekeh. “Sekarang mau bantu Bapak? Nanti kawan-kawanmu yang lain akan Bapak bagi mangga ini. Biar mereka tahu bahwa mangga yang ranum lebih enak dari pada mangga yang masih kecil dan mentah”. Firman mengangguk-angguk dengan senang. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s